Rabu, 24 Agustus 2011

Straight Edge

Straight Edge ..

Mungkin masyarakat sekarang menganggap, bahwa musik Hardcore / Punk adalah identik dengan kekerasan, minuman keras dan rokok mungkin juga drugs.
tapi ini semua akan menjadi lain hal dengan adanya gaya hidup Straight Edge, di dalamnya Straight Edge lebih identik dengan Drug Free.
dimana seorang akan membuat sebuah komitmen untuk hidup terbebas dari Alcohol, Drugs dan Rokok. Istilah seperti ini menurut ensiklopedi umum hardcore,
ditemukan pada saat seorang anak kecil yang datang kedalam sebuah acara di dalam acara itu, crew menyendirikan orang yang perokok dan tidak merokok dengan cara
memberi tanda X di tangan anak kecil yang sama sekali terbebas dari rokok dan hal-hal lain. saat itulah berdiri tanda X yang tidak memiliki arti.
setelah kian lama muncul Teen Idles yang menerapkan gaya hidup seperti ini, band hardcore / punk ini sudah lama dalam menjalani gaya hidup seperti ini, regenerasi terjadi
muncul Minor Threat yang mencoba memberi nama Straight Edge, dari sinilah muncul proporsi apa itu Straight Edge, dimana di dalamnya kita membuat sebuah komitmen seumur hidup
untuk abstain dari ALCOHOL, DRUGS, ROKOK dan PROMISCUITY bukan hanya tanda X ditangan tapi kita juga harus menjalani komitmen seumur hidup ini.

contoh nyata sXe adalah :

Teen Idles, Minor Threat, Champion, Have Heart, BANE, FocusedxMinds dsb.
Braveheart, Blind To See, Final Answer, Take One Step dsb.

*Maaf gan kalo kurang ngerti, ini adalah artikel Straight Edge yg saya buat menurut sepengetahuan saya :D

Selasa, 09 Agustus 2011

Hardcore Punk Indonesia

Hardcore punk (terkadang disebut Hardcore saja) merupakan salah satu subgenre dari punk rock yang berasal dari Amerika Utara dan UK diakhir tahun 1970an. Sound baru ini yang merupakan ciri khas musiknya secara umum yaitu: suara gitar yang lebih tebal, berat dan cepat dari musik punk rock awal. Tipikal lagu biasanya sangat pendek, cepat dan keras, selalu membawakan lagu tentang politik, kebebasan berpendapat, kekerasan, pengasingan diri dari sosial, straight edge, perang dan tentang sub-kultur hardcore itu sendiri.

Minor Threat


Hardcore Punk Indonesia

Musik Hardcore sudah eksis di Indonesia pada tahun akhir 1980-an. Dengan fenomena yang ada menyebabkan sebagian dari punker mulai melahirkan scene-scene hardcore punk. Sehingga musik hardcore di Indonesia sangat kental dengan warna punk.

Dikarenakan masih sangat sedikitnya scene hardcore maka scene terbagi menjadi dua kaum, yaitu kaum individu yang lebih suka menikmati musik Hardcore dengan sosialisasi yang secukupnya dan kaum yang sangat suka bersosialisasi (membaur dengan komunitas punk). Hal ini terjadi sampai sekitar pertengahan tahun 90-an. Tahun 90-an bisa dibilang tahun musik Hardcore di Indonesia dan puncaknya pada akhir tahun 1990 ditandai dengan mulainya pertunjukan-pertunjukan di berbagai tempat menampilkan 100% band hardcore (yang sebelumnya selalu mencampur dengan band punk) dan kemudian musik hardcore mulai membaur dengan melodicore.
Dengan semakin banyaknya band hardcore bersamaan pula munculnya records D.I.Y yang menyalurkan kreatifitas band seperti pinball records dan ffgrecords. Di Indonesia kota Jakarta adalah kota yang memiliki banyak band hardcore, untuk di kota lain umumnya hardcore dibawa dan berkembang dari individu anak Jakarta yang kuliah di luar kota ataupun bekerja. Band Hardcore Jakarta antara lain adalah Anti Septic, Triple X, Straight Answer, Final Attack, Lost Sight, Dirty Edge, Popcorn, Sugesti X, Secret Agent. Depok juga memiliki DC crew: Thinking Straight dan juga band-band depok lainnya yang mayoritas mengusung oldschool hardcore punk.

Setelah era oldschool, hardcore amerika, hardcore oldscholl eropa ke newschool maka dimulailah hardcore yang di dominasi dengan musik lebih kental musik metalnya seperti Jumbo Jet bahkan emo, hingga saat ini (tahun 2000-an).

Straight Answer


Final Attack


Lost Sight


Thinking Straight

Senin, 18 Juli 2011

HARD ATTACK gigs

Gigs dalam waktu dekat, at Rossi music center jkt.
start at 13.00 - till drop


Hard Machine - Time To Rest Again 2010

hard machine hardcore semarang, yang beranggotakan Bagas Rio ( vocal ), Luki ( vocal 2 ), zaky ( guitar ), naufal ( guitar ), cobrut ( bass ), ambon ( drum ) ini sudah berdiri sejak 10 oktober 2010 lalu. kami mengusung genre hardcore karena itu adalah keinginan kami, dan kami disini hanya ingin mencari kesenangan dan bukan ketenaran , di tahun 2010 - 2011 kami akan mengeluarkan promo album tepatnya pada bulan februari. untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi contact person kami.

untuk sedikit demo album kami saja bisa kalian lihat dibawah sini 


Genre : Oldskull Hardcore
Country : Semarang - Indonesia
Website : www.myspace.com/hardmachinehardcore
Album : Time To Rest Again
Year : 2010
Release : -

kalo mau download silahkan klik dibawah ini

Jumat, 15 Juli 2011

Straight Edge

Apa itu Straight Edge Lifestyle?...dan apa manfaatnya bagi kita?...,kita simak artikel berikut ini:

Tepat Mei ini, di akhir warsa 60-an, Mick Jagger dan Keith Richards dari Rolling Stones sedang menghadapi persidangan gara-gara di rumah mereka ditemukan berbagai macam obat terlarang. Akhirnya duo rocker itu ditangkap polisi, walau akhirnya mereka dibebaskan, tapi masalah drugs selalu membayangi Rolling Stones.

The Beatles di era kejayaannya, konon sering memakai LSD sebagai media kreatif mereka buat nyiptain lagu. Konon, lagu “Help!” dari The Beatles adalah lagu pertama yang dibuat di bawah pengaruh LSD. Bukan rahasia juga, kalau beberapa musisi di negeri ini sempat terjebak narkoba, bahkan sampai ada yang tewas karenanya.

Dari situ muncullah idiom “sex, drugs, and rock and roll”. Menyeramkan ya? Tapi, apa benar, sampai sekarang dunia musik dan pelakunya masih gitu-gitu aja? Tanpa perubahan atau keinginan untuk mengubah menjadi lebih baik?

Eits, jangan apatis dulu apalagi mikir kalau anak band bisanya seneng-seneng doang. Soalnya di tahun 80-an, pernah muncul sebuah gerakan yaitu straight edge (juga disebut sXe dan xXx).

Apa sih sebenernya straight edge itu? Yuk, kita bahas bareng-bareng.

Straight edge adalah sebuah gerakan yang menolak kegiatan seperti merokok, pemakaian obat-obatan terlarang, minum minuman beralkohol, dan seks bebas. Mereka yang menganut paham ini, enggak pernah melakukan aktivitas seperti itu. Hmm, secara sederhana aja, kita bisa ngelihat kalau straight edge ini nguntungin kesehatan. Ya, kan?

Lalu, apa lagi sih yang bisa kita tarik dari gerakan ini? “Straight edge ini bisa dibilang sebagai sempalan dari filosofi positif anak-anak punk, perlawanan mereka terhadap hal yang tidak mereka sukai seperti kekerasan” ujar Dr. Selly Riawanti, dosen Antropologi Universitas Padjadjaran. So, kalau gitu straight edge bisa juga diartikan sebagai gaya hidup, komitmen pribadi, filosofi, sampai ke subkultur musik hardcore punk.

Ya, hardcore punk, musik yang identik dengan pogo! Bukan tanpa alasan kenapa aliran musik ini memegang peranan penting movement straight edge ini. Band Minor Threat (selengkapnya baca box --red.) adalah yang memelopori gerakan straight edge ini. Tahun 1981, sang vokalis Ian MacKaye merasa jenuh dengan gaya hidup brutal anak punk, yang akhirnya menjadikan stereotipe anak punk sebagai berandalan yang hobi menghancurkan diri sendiri. “Waktu itu kan scene punk identik dengan self destruction,” ujar Noor Al-Kautsar a.k.a Ucay Rocket Rockers. “Ini adalah pemberontakan Ian MacKaye pas lihat banyak anak punk yang rusuh dan nge-drugs,” tambah Roma Maleakhi, vokalis Sherasupersweet.

Ian MacKaye lantas menciptakan sebuah lagu berjudul Straight Edge. Sebuah lagu dengan lirik straight to the point. Simak, nih:

Bagian terakhir tadi diulang terus-terusan, sampai akhirnya beberapa orang yang merasakan hal yang sama menjadikan straight edge ini sebagai pemberontakan positif mereka dan sempat menjadi trend. “Sesuatu yang dilabelkan itu kan pasti akan dianggap lebih keren, anak muda kan lebih tertarik dengan sesuatu yang keren-keren, daripada denger orang ceramah. Ya, kan?” urai Ucay pada belia.

Tapi Ucay sendiri mengaku menjadi straight edge sejak 1998 bukan karena label keren or what so ever. “Dulu di sekolah gua, banyak banget junkie dan temen-temen gua satu per satu meninggal. Waktu itu, gua mikir, kalau bukan gua yang melakukan perubahan, siapa lagi?” tambah Ucay.

Alasan lain diungkapkan oleh Roma yang bilang kalau dari dulu dia emang enggak suka dengan rokok apalagi minuman beralkohol. “Udah dari kelas 2 SMA sih, tapi waktu itu belum tahu banyak soal straight edge, jadi belum berani bilang kalau saya straight edge. Pas nongkrong di Riotic, saya dapet banyak info soal straight edge, baru saya berani bilang kalau saya adalah straight edge!” urainya panjang lebar. Roma juga menambahkan kalau pogo dan menikmati musik itu bisa kok dalam keadaan sadar. Setuju!

Lain lagi dengan Sar*, vokalis DEADMAYA, yang enggan mengakui bahwa dia adalah seorang straight edge. “Saya enggak suka memanggil diri saya seorang straight edge, karena banyak anak Jakarta yang ngaku-ngaku seperti itu tapi merokok dan minum juga,” tegas pengagum Jonathan Davis ini (dikutip dari majalah Encore #3 --red.).

Efek jadi penganut straight edge kayak gimana sih? Well, Roma dan Ucay setuju kalau badan mereka jadi lebih sehat. “Paling setahun sekali sakitnya, itu pun hanya flu, hehehe. Pikiran juga lebih jernih,” ucap Ucay.

By the way, gerakan straight edge identik juga dengan tanda “x” hitam di punggung tangan sebelah kiri dan kanan. Awalnya sih, tanda “x” ini dipakai sebagai tanda agar anak-anak punk yang masih di bawah umur biar enggak bisa beli minuman keras. Kalau ditelusuri, simbol ini diambil dari album The Teen Idles.

Ucay sendiri sering menggambar tanda “x” itu di tangannya saat manggung bersama bandnya. Penonton yang melihat pun memerhatikan dan mereka bertanya kepada Ucay. “Sebagian ada juga yang tertarik, yah sedikit edukasi lah soal straight edge,” kata Ucay sembari bilang kalau ini adalah kampanye pribadi bukan atas nama Rocket Rockers.

Hmm, emang agak berat ya enggak merokok atau minum alkohol di lingkungan yang nampaknya identik dengan dua hal tadi? “Dulu waktu masih di Serang, mungkin saya sering ngerasa sendiri. Tapi, dasarnya emang enggak suka sih,” kata Roma. Jangan salah, lho … toleransi di lingkungan kayak gini justru tinggi banget. Bukan sekali dua kali, Ucay dan Roma ditawari minum bir oleh band lain dan mereka menolak. “Mereka kaget tapi habis itu minta maaf. Santai sih,” ujar Roma. Anggota band lain yang kebetulan enggak menjalankan straight edge juga santai-santai aja tuh. Asyik, kan?

Intinya sih, Belia bisa mendapatkan respek dari siapa pun tanpa harus maksain diri merokok, minum minuman keras, nge-drugs juga free seks. Jelas-jelas semua kegiatan tadi, apalagi kalau rasa tanggung jawab masih kurang, bisa ngerugiin Belia. Respect bisa kalian dapatkan dengan menjadikan diri kalian yang terbaik. As simple as that.

Kalau misalnya, sampai hari ini masih ada yang ngomong Belia cupu kalau enggak merokok, minum minuman keras, nge-drugs apalagi free seks, duh (sorry nih) kayaknya lebih cupu orang yang punya pendapat tadi. Lagian rugi berat kalau di masa tua nanti, kita malah jatuh sakit akibat mencari respek dengan cara tadi. It’s a big no no. Cuekin aja. Gimana? Tertarik menjadi straight edge?! 

Gorilla Biscuits


Gorilla Biscuits were formed when Smilios and Nick Drysdale met Civarelli while they were both attending the same high school on Long Island. All three were fans of the band Agnostic Front, and started going to hardcore shows at CBGB on weekends. There they met people like Ray Cappo andJohn Porcelly of the band Youth Of Today.
Arthur sought to form a hardcore band and asked Civ to act as vocalist. However Civ was not interested in singing, and due to nerves had to face the floor or wall during early gigs. Members of the band Token Entry arranged a gig for the still unnamed band (Gorilla Biscuits used Token Entry's drummer, Ernie Parada for that first show), but needed a name to give it to the promoter. A popular drug in the area at that time was quaaludes, which people called "ape shit," or "gorilla biscuits" due to the pill's large size. Eventually the name evolved into Gorilla Biscuits, and though it was initially only meant to be temporary, they have continued to use it.
The band made a number of low-fi demo tapes which were sold at a dollar store. Their first official t-shirts were blue with an image of a gorilla riding a skateboard and were made using black magic markers and an ink blotter.





New In Here

Disrepair tempat untuk kalian meluapkan emosi yg ada dalam diri kalian :)